Rekonstruksi Perlindungan Hukum atas Alat Bukti Hak Ulayat Pasca Berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021 dalam Perspektif Teori Keadilan Prosedural
DOI:
https://doi.org/10.35586/flj.v3i02.14135Kata Kunci:
Hak Ulayat, Tanah Adat, Kepastian Hukum, Alat Bukti, Masyarakat Hukum AdatAbstrak
Penelitian ini mengkaji rekonstruksi perlindungan hukum atas alat bukti hak ulayat pasca berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021 dalam perspektif keadilan prosedural. Fokus utama penelitian diarahkan pada persoalan delegitimasi bukti adat dan belum optimalnya pengakuan terhadap bukti sosial komunal dalam sistem administrasi pertanahan Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Bahan hukum dianalisis secara preskriptif untuk menilai konsistensi norma, menemukan kelemahan pengaturan, dan merumuskan model perlindungan hukum yang lebih adil terhadap pembuktian hak ulayat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021 telah membuka jalur formal tanah ulayat melalui skema hak pengelolaan, penetapan oleh Menteri, pendaftaran, dan sertifikasi. Namun, model tersebut masih menempatkan validitas hak ulayat dalam rezim pengakuan negara dan belum secara tegas merekognisi riwayat penguasaan kolektif, pengakuan masyarakat adat, batas alam, dan legitimasi lembaga adat sebagai bagian mandiri dari sistem pembuktian pertanahan nasional. Dalam perspektif hukum acara, bukti adat sesungguhnya dapat dihubungkan dengan alat bukti tertulis, saksi, dan persangkaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kepastian hukum tanah ulayat harus dibangun melalui rekonstruksi normatif yang mengintegrasikan hukum adat, hukum pertanahan, dan keadilan prosedural agar perlindungan hak masyarakat hukum adat menjadi lebih substantif dan operasional.
Unduhan
Referensi
Artikel Jurnal
Abdullah, A., Fisher, M. R., & Sahide, M. A. K. (2024). Environmental governance challenges of indigenous forest recognition: Climate solution ideal and its uneven outcomes in Indonesia. Forest and Society, 8(2), 402–421. https://doi.org/10.24259/fs.v8i2.34423
Artina, D., Indra, M., Diana, L., Tiraputri, A., & Saragih, G. M. (2024). Overlapping regulation: Kepastian hak ulayat atas tanah masyarakat hukum adat Muara Sakal Pelalawan Riau. Masalah-Masalah Hukum, 53(1), 23–34. https://doi.org/10.14710/mmh.53.1.2024.23-34
Fahmi, C., & Armia, M. S. (2022). Protecting indigenous collective land property in Indonesia under international human rights norms. Journal of Southeast Asian Human Rights, 6(1), 1–25. https://doi.org/10.19184/jseahr.v6i1.30242
Gunadi, A. (2019). The embodiment of adat law as an element of legal certainty in administration of adat rights. Indonesia Law Review, 9(3), 259–277. https://doi.org/10.15742/ilrev.v9n3.585
Hidayat, H., Yogaswara, H., Herawati, T., Blazey, P., Wyatt, S., & Howitt, R. (2018). Forests, law and customary rights in Indonesia: Implications of a decision of the Indonesian Constitutional Court in 2012. Asia Pacific Viewpoint, 59(3), 293–308. https://doi.org/10.1111/apv.12207
McWilliam, A. (2006). Historical reflections on customary land rights in Indonesia. The Asia Pacific Journal of Anthropology, 7(1), 45–64. https://doi.org/10.1080/14442210600551859
Nurdin, Z., & Tegnan, H. (2019). Legal certainty in the management of agricultural land pawning in the matrilineal Minangkabau society, West Sumatra. Land, 8(8), Article 117. https://doi.org/10.3390/land8080117
Octavia, E. Z., Masykur, M. H., & Fadil, M. (2025). Legal status of former customary land ownership evidence after its validity period expires: Assessment of the legal certainty over Indigenous peoples’ land rights. Law. Human. Environment, 16(3), 160–172. https://doi.org/10.31548/law/3.2025.160
Salim, M. N., Jannah, W., Mujiburohman, D. A., & Junarto, R. (2025). From tradition to transformation: Customary land dynamics and state protection in Manggarai, Indonesia. Humanities, Arts and Social Sciences Studies, 25(1), 78–90. https://doi.org/10.69598/hasss.25.1.267517
Setiawati, N. A., Basundoro, P., Kusumawanto, A., Putro, M. A. P., & Pratama, S. F. (2025). Customary land rights and postcolonial land governance: The case of Pakel Village, Indonesia, 1950s-1980s. Paramita: Historical Studies Journal, 35(2). https://doi.org/10.15294/paramita.v35i2.18311
Simarmata, R. (2019). The enforceability of formalised customary land rights in Indonesia. Australian Journal of Asian Law, 19(2), 299–313.
Sukirno, S., & Malik, M. F. (2025). Shifting legal landscapes: The evolution and future of customary land rights recognition in Indonesia. Masalah-Masalah Hukum, 54(3), 353–371. https://doi.org/10.14710/mmh.54.3.2025.353-371
Sukirno, S., & Wibawa, K. C. S. (2024). Indigenous land dispute resolution in Indonesia: Exploring customary courts as an alternative to formal judicial processes. Revista Brasileira de Alternative Dispute Resolution, 6(12). https://doi.org/10.52028/rbadr.v6.i12.art09.en
Swardhana, G. M., & Jenvitchuwong, S. (2023). The participation within indigenous land management: Developments and challenges of indigenous communities protection. Journal of Human Rights, Culture and Legal System, 3(2), 308–327. https://doi.org/10.53955/jhcls.v3i1.72
Winarsih. (2017). Recognition of customary disputes settlement in Law Number 6 of 2014 on Villages: A responsive law review in Indonesian legal reform. Journal of Indonesian Legal Studies, 2(2), 101–112. https://doi.org/10.15294/jils.v2i2.45395
Yarsina, N., Budianto, A., Marsiansyahd, & Arfianto, D. (2026). Ulayat land registration in providing legal certainty through certification based on the principle of justice. Nusantara: Journal of Law Studies, 5(1), 187–204. https://doi.org/10.66325/nusantaralaw.v5i1.121
Buku
Arizona, Y. (2023). Indigeneity in the Indonesian Constitution. In M. Crouch (Ed.), Constitutional democracy in Indonesia (pp. 197–218). Oxford University Press. ISBN 9780192870681.
Arizona, Y., & Cohen, M. (2024). The recognition of customary land rights at the Constitutional Court of Indonesia: A critical assessment of the jurisprudence. In B. de Villiers, S. Isra, & P. M. Faiz (Eds.), Courts and diversity: Twenty years of the Constitutional Court of Indonesia (Brill’s Asian Law Series, Vol. 12, pp. 173–194). Brill | Nijhoff. https://doi.org/10.1163/9789004691698_008. ISBN 9789004691681 (hardback); 9789004691698 (ebook).
Mulyani, L. (2022). Traditional communities in Indonesia: Law, identity, and recognition. Routledge. https://doi.org/10.4324/9781003311478. ISBN 9781032318097 (hardback); 9781003311478 (ebook).
Peraturan perundang-undangan
Rechtsreglement voor de Buitengewesten (RBg), Staatsblad 1927 Nomor 227.
Herzien Inlandsch Reglement (HIR), Staatsblad 1941 Nomor 44.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Burgerlijk Wetboek voor Indonesië (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata), Staatsblad 1847 Nomor 23.
RUndang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2043.
RPeraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021 tentang Hak Pengelolaan, Hak atas Tanah, Satuan Rumah Susun, dan Pendaftaran Tanah, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6630.
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2026 Forschungsforum Law Journal

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Artikel ini diterbitkan di bawah lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International (CC BY 4.0). Pembaca bebas menyalin, mendistribusikan ulang, mengubah, dan mengembangkan materi ini dalam media atau format apa pun, untuk tujuan apa pun, termasuk tujuan komersial. Syaratnya satu, cantumkan atribusi kepada penulis dan kepada Forschungsforum Law Journal, sertakan tautan ke lisensi, dan nyatakan apabila ada perubahan.
Penulis tetap berhak menggunakan kembali artikelnya sendiri dan menyimpannya di repositori institusi atau laman pribadi tanpa masa tunggu.

