KORELASI KUALITAS HIDUP DAN FUNGSI KOGNITIF ANAK DOWN SYNDROME DI YPLB DEPOK
DOI:
https://doi.org/10.52019/ijpt.v3i2.7899Abstrak
Latar Belakang : Kasus Down Syndrome di Indonesia akan meningkat antara tahun 2010 hingga 2018 kasus down syndrome di Indonesia cenderung meningkat. Pada penderita Down Syndrome, kromosom nomor 21 tidak membelah menjadi dua, melainkan memiliki tiga, atau trisomi. Akibatnya, bayi memiliki 47 kromosom, bukan 46 biasanya. Hal ini menyebabkan kelainan pada perkembangan fisik dan mental anak. Pembentukan kromosom yang tidak sempurna ini menyebabkan gangguan pada fungsi kognitif dan kualitas hidup selama fase pertumbuhan anak.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Dengan sampel 83 anak dengan Down Syndrome dan dengan tingkat kesalahan sebesar 5%. Penelitian ini dilangsungkan secara offline melalui alat ukur cognitive scale for down syndrome (cs-ds) dan The TNO-AZL Questionnaire for Children's Health-Related Quality of Life (TacQol).
Hasil : Hasil yang di dapatkan pada penelitian ini yaitu adanya hubungan yang signifikan antara fungsi kognitif dan kualitas hidup pada anak down syndrome dengan nilai P = 0.000 pada kedua variabel dan correlation coefficient r = 1.000 untuk fungsi kognitif dan r = 0.463 untuk kualitas hidup. Karena nilai r bernilai positif pada kedua variabel maka hubungan kedua variabel tersebut searah.
Kesimpulan : Penelitian ini menghasilkan bahwa adanya hubungan antara fungsi kognitif dan kualitas hidup yang searah pada anak down syndrome di YPLB Nusantara Depok.
Kata kunci: Down Syndrome; Kualitas Hidup; CS-DS; TacQol; Fisioterapi



