Hak Ekslusif Film Benyamin Biang Kerok Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Analisis Putusan Nomor 53/Pdt.Sus-HKI/Cipta/2018/PN Niaga Jkt.Pst

Fadil Hikmanul Hakiem, Khamami Zada

Sari


Terjadi sengketa tentang pemegang hak cipta dalam film Benyamin Biang Kerok yang diproduksi ulang oeh PT. Falcon Pictures, PT. Max Kreatif International dan PT. Layar Cipta Karyamas. Syamsul Fuad menggugat empat perusahaan produksi film tersebut ke Pengadilan Niaga Jakarta untuk membuktikan apakah terdapat pelanggaran hak cipta dalam reproduksi film ciptaan Penggugat dan tuntutan ganti kerugian atas pelanggaran hak cipta.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dasar pertimbangan dan putusan hakim pada perkara tersebut berdasarkan ketentuan Undang-Undang  Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa hakim Pengadilan Niaga pada putusannya menolak seluruh gugatan Penggugat, dengan pertimbangan hakim yang menyatakan bahwa Penggugat bukanlah sebagai pemegang hak cipta melainkan hanya sebagai pencipta (pemegang hak moral). Hal ini dibuktikan dengan adanya pelimpahan hak cipta yang dilakukan oleh Tergugat I dengan Tergugat III sebagaimana telah dicatatkan pada Menteri Hukum dan HAM Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Dengan dasar pertimbangan tersebut, hakim yang memutus  perkara sengketa hak cipta film Benyamin Biang Kerok telah sesuai dengan ketentuan yang dilihat secara yuridis dalam aspek hukum Perdata pasal 1320 KUH Perdata, Undang-Undang Hak Cipta pasal 16 ayat 1 dan 2, serta filosofis dalam teori perlindungan hukum.


Kata Kunci


Hak cipta, film dan putusan pengadilan

Article Metrics

Sari view : 178 times

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


##submission.copyrightStatement##



Indexing By